Selasa, 29 April 2014

Tugas ke pertambahan penduduk dan lingkungan pemukiman

PERTUMBUHAN PENDUDUK DAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN






Disusun Oleh:

Nama / NPM               : 1.  Felix Dewangga P           /  32411803
                                      2.  M. Ravi                            /  34411934
                                      3.  Rizqi Ary .S                     /  36411410

Kelas                           : 3ID05





JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2014


Seiring dengan perkembangan zaman, penduduk di seluruh dunia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Termasuk penduduk di Indonesia. Sebagai manusia, memiliki keturunan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari eksistensi kita. Namun, tanpa kita sadari memiliki keturunan dalam jumlah tidak terkendali, dapat menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan eksistensi bagi manusia itu sendiri dalam mencapai kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera.
Melihat perannya, penduduk suatu negara dapat berperan sebagai objek dan subjek pembangunan. Sebagai objek, artinya penduduk merupakan faktor yang harus dibangun atau ditingkatkan kualitas hidupnya. Sedangkan sebagai subjek penduduk merupakan faktor pelaku proses pembangunan. Di lihat dari sisi yang lain, penduduk merupakan beban sekaligus potensi bagi suatu negara. Apabila suatu negara pertumbuhan penduduknya sangat tinggi, ini merupakan masalah. Hal ini dikarenakan kapasitas wilayah suatu Negara terbatas.
Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki jumlah penduduk cukup padat. Tidak bisa di pungkiri bahwa laju  pertumbuhan penduduk  Indonesia begitu pesat dan tidak bisa di hindari, meskipun pemerintah telah melakukan upaya dan berbagai solusi serta berbagai semboyan telah di tawarkan kepada masyarakat namun tetap saja laju pertumbuhan penduduk tidak bisa terbantahkan. Meskipun solusi yang di tawarkan tidak sesuai dengan harapan pemerintah, tapi setidaknya bisa mereduksi sebagian masalah yang ada. Penduduk merupakan unsur penting dalam usaha untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan kegiatan ekonomi.
Ada beberapa hal yang menyebabkan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia sulit untuk dihindari, di antaranya:
  • peningkatan angka kelahiran,
  • umur panjang,
  • penurunan angka kematian,
  • kurangnya pendidikan, pengaruh budaya,
  • imigrasi dan emigrasi.
Dari segi ekonomi, pertumbuhan penduduk yang tinggi tetapi tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan yang luas maka hal ini akan menimbulkan pengangguran di mana-mana dan kemiskinan pun tercipta. Ini tentu saja akan mempengaruhi proses kehidupan di bidang lainnya. Kebutuhan ekonomi yang tidak memadai juga dapat berpengaruh pada tingkat pendidikan dan kesehatan seseorang. Bagaimana mau memperoleh pendidikan dan kesehatan yang layak, jika untuk kebutuhan hidup sehari-haripun mereka susah mendapatkannya. Tak hanya berhenti di situ saja, tingkat kriminalitas pun akan meningkat. Orang dalam kondisi lapar akan berbuat apa saja yang penting kebutuhannya bisa terpenuhi. Ujung dari pertumbuhan penduduk yang tinggi itu adalah menimbulkan kerusakan lingkungan dengan segala dampak yang menyertainya seperti menurunnya kualitas pemukiman dan lahan yang ditelantarkan. Intinya, pertumbuhan penduduk yang tinggi berpotensi menimbulkan kemiskinan dan menurunnya kesejahteraan rakyat, sampai menurunnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dapat menghambat perkembangan  negara Indonesia.
Sementara itu jumlah penduduik indonesia disetiap provinsi menurut Badan Pusat Statistik Laju pertumbuhan penduduk di gambarkan pada tabel dibawah ini.


Menurut Badan Pusat Statistik jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang menghuni Pulau Jawa termasuk Madura, jumlah penduduk terbanyak adalah propinsi Jawa Barat sebanyak 43,02 juta, diikuti kemudian oleh Jawa Timut 37,48 juta, Jawa Tengah 32,38 juta, Banten 10,64 juta, DKI Jakarta 9,59 juta dan DIY sebanyak 3,46 juta orang. Namun demikian angka laju pertumbuhan penduduk periode 2000-2010 ini yang tertinggi justru dicatat oleh Papua yaitu 5,39% dan terendah propinsi Jawa Tengah sebesar 0,37%.
Perkembangan lingkungan permukiman di daerah perkotaan tidak terlepas dari pesatnya laju pertumbuhan penduduk baik karena faktor pertumbuhan penduduk secara alami serta proses urbanisasi. Banyaknya pendatang dari luar kota yang jumlahnya banyak mendorong laju pertumbuhan penduduk sehingga meningkatkan pemukiman padat penduduk.
Pemukiman merupakan bagian dari lingkungan hidup yang digunakan sebagai tempat   tinggal   dari   sekelompok  manusia yang saling berinter - aksi serta berhubungan setiap hari dalam rangka untuk mewujudkan masyarakat yang tenteram, aman dan damai. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai hunian dan tempat kegiatan yang mendukung peri kehidupan dan penghidupan.
Pemukiman  adalah suatu struktur fisik dimana orang menggunakannya untuk tempat berlindung, termasuk juga semua fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani dan rokhani serta keadaan sosialnya, baik untuk keluarga maupun individu.
Pemukiman atau perumahan sangat berhubungan dengan kondisi ekonomi sosial, pendidikan, tradisi atau kebiasaan, suku, geografi dan kondisi lokal. Selain itu lingkungan perumahan atau pemukiman dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat menentukan kualitas lingkungan perumahan tersebut antara lain fasilitas pelayanan, perlengkapan, peralatan yang dapat menunjang terselenggaranya kesehatan fisik, kesehatan mental, kesehatan sosial bagi individu dan keluarganya.
Ciri-ciri permukiman kumuh yang tampak pada citra adalah mempunyai pola tidak teratur, rapat tidak ada jarak antar rumah, sebagian besar rumah beratapkan asbes atau seng dan sebagian kecil beratapkan genteng. Pada citra tersebut, atap asbes terlihat sebagai warna putih, sedangkan rumah yang beratapkan genteng terlihat berwarna oranye.

Hubungan Pemukiman dan Kesehatan
Kondisi- kondisi ekonomi, sosial, pendidikan, tradisi/kebiasaan, suku, geografi dan kondisi lokal sangat terkait dengan pemukiman/perumahan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi atau yang dapat menentukan kualitas  lingkungan  perumahan / pemukiman  antara lain fasilitas pelayanan, perlengkapan, peralatan yang dapat menunjang terselenggaranya keadaan fisik, kesehatan mental, kesejahteraan sosial bagi individu dan keluarganya (dr. H. Haryoto Kusnoputranto, SKM). Penyehatan lingkungan tempat pemukiman adalah segala upaya untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan tempat pemukiman beserta lingkungannya dan pengaruhnya terhadap manusia.

Tujuan dilaksanakan Kesehatan Lingkungan di Tempat Permukiman
1.   Penataan dan pemukiman yang memenuhi syarat kesehatan. 




Pemukiman sehat adalah suatu tempat untuk tinggal secara permanen, berfungsi sebagai tempat untuk bermukim, beristirahat, berrekreasi dan sebagai tempat berlindung dari pengaruh lingkungan yang memenuhi persyaratan fisiologis, psikologis, bebas dari penularan penyakit dan kecelakaan. Satuan Lingkungan Permukiman adalah kawasan perumahan dalam berbagai bentuk dan ukuran dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan sarana lingkungan yang teratur.
2.   Terwujudnya suatu kondisi perumahan yang layak huni dalam lingkungan yang sehat.
Ini artinya bahwa rumah di perumahan itu harus sehat,  rumah yang dapat menjadi tempat berlindung / bernaung dan beristirahat sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani maupun sosial. Kondisi perumahan yang layak huni artinya harus layak sebagai tempat hunian yag dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Prasarana lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan yang memungkinkan lingkungan permukiman dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang  berfungsi untuk  penyelenggaraan  dan  pengembangan  kehidupan ekonomi, social dan budaya.
3.   Mengurangi resiko kebakaran, kecelakaan, penularan penyakit.
Dalam mengurngi resiko kebakaran, kecelakaan, penularan penyakit diperlukan sara dan utilitas. Utilitas umum merupakan bangunan bangunan yang dibutuhkan dalam sistem pelayanan lingkungan yang diselenggarakan baik oleh pemerintah atau swasta, Utilitas yang dimaksud adalah penyediaan yang menyangkut jaringan air bersih, listrik, pembuangan sampah, telepon dan gas .
BPLHD Ibu Kota Jakarta, Jumlah penduduk DKI Jakarta pada tahun 2012 berdasarkan proyeksi penduduk sebanyak 9.932.063 jiwa, dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2011sebanyak 9.761.992 jiwa, telah terjadi peningkatan sebesar 170.071 jiwa atau naik sebesar 1,74 persen. Perkembangan jumlah penduduk DKI Jakarta selama empat dasawarsa (1961-1990) jumlah penduduk tumbuh dengan pesat dari 2,9 juta jiwa pada tahun 1961 menjadi 4,6 juta jiwa pada tahun 1971, atau laju pertumbuhan penduduk per tahun nya sebesar 4,62 persen. Sepuluh tahun berikutnya, jumlah penduduk bertambah lagi menjadi 6,5 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan 4,01 persen per tahun. Tahun 1990, penduduk DKI Jakarta naik sekitar 1,7 juta jiwa, sehingga jumlah penduduk menjadi 8,3 juta jiwa. Selama periode 1980-1990 laju pertumbuhan penduduk sebesar 2,42 persen per tahun. Laju pertumbuhan pada periode ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode sepuluh tahun sebelumnya. Pada kurun waktu 1990-2000, pertambahan penduduk DKI Jakarta dapat dikendalikan sehingga kenaikannya hanya sekitar 0,16 persen. Pada periode 2000-2010, laju pertumbuhan penduduk mengalami penurunan menjadi 1,43 persen per tahun, sedangkan pada tahun 2010-2012 menjadi 1,67 persen.
Jumlah penduduk DKI Jakarta sebanyak9.932.063juta pada tahun 2012 tersebut merupakan jumlah penduduk “malam hari”.Keunikan jumlah penduduk DKI Jakarta adalah adanya perbedaan jumlah penduduk pada malam hari dibandingkan dengan siang hari. Pada siang hari di perkirakan mencapai sekitar 10,7 juta jiwa. Kondisi ini di pengaruhi oleh penglaju (commuter) yaitu penduduk yang tinggal di luar Wilayah DKI Jakarta tetapi melakukan aktivitas pada siang hari seperti bekerja dan bersekolah di Wilayah DKI Jakarta.
Jumlah penduduk DKI Jakarta yang terus meningkat ini perlu dicermati karena dapat menimbulkan permasalahan di berbagai bidang. Masalah yang berkaitan erat dengan jumlah penduduk yang tinggi antara lain masalah permukiman, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan ketenagakerjaan serta sanitasi lingkungan, dan salah satu masalah yang muncul dan perlu di waspadai oleh Pemda DKI Jakarta adalah munculnya permukiman-permukiman kumuh (slum area) di beberapa wilayah DKI Jakarta.

OPINI
Permasalahan diatas menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjadikan pertumbuhan penduduk yang tinggi ini sebagai suatu hal yang positif atau negatif bagi bangsa dan negara Indonesia ke depannya. Jika ingin menekan pesatnya pertumbuhan penduduk, maka kita dapat melakukan hal-hal, yang di antaranya: menggalakkan program Keluarga Berencana untuk membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga secara umum dan massal, sehingga akan mengurangi jumlah angka kelahiran, menunda masa perkawinan agar dapat mengurangi jumlah angka kelahiran yang tinggi, dan sebagainya. Selain itu, kita dapat mengimbangi pertambahan penduduk dengan cara: penambahan dan penciptaan lapangan kerja, meningkatkan kesadaran dan pendidikan kependudukan, mengurangi kepadatan penduduk dengan program transmigrasi, meningkatkan produksi dan pencarian sumber makanan, serta cara-cara lainnya.
Perkembangan lingkungan permukiman di daerah perkotaan tidak terlepas dari pesatnya laju pertumbuhan penduduk baik karena faktor pertumbuhan penduduk secara alami serta proses urbanisasi. Pertumbuhan penduduk dan terbatasnya lahan di daerah perkotaan menyebabkan semakin berkembangnya rumah petak kecil yang diperjualbelikan dan disewakan kepada para pendatang. Rumah-rumah petak kecil tersebut kemudian berkembang menjadi kawasan padat dan kumuh yang disebut dengan kawasan kumuh (slum area).
Untuk mewujudkan sebuah pemukiman impian, bukan hanya menunggu kepedulian pemerintah setempat yang selalu menunggu musibah datang baru bertindak. Namun yang dibutuhkan adalah kepedulian masyarakat yang cerdas dalam menjaga kesehatan lingkungan masing-masing. Kebersihan dan kreativitas masyarakat menjadi faktor utama dalam mewujudkan kesehatan lingkungan pemukiman yang bersih, dan nyaman. Mengatasi masalah kesehatan lingkungan pemukiman sangatlah tidak sulit. Jika kita mau mengatasinya bersama-sama, hal-hal negatif yang diakibatkan oleh perilaku kita dapat kita hindari sehingga terciptalah kesehatan lingkungan pemukiman. Agar tercipta lingkungan yang sehat maka dibutuhkan syarat-syarat seperti
1. Sistem drainase lingkungan yang baik: kawasan permukiman perkotaan, terutama permukiman yang padat, biasanya tidak memiliki sistem saluran air yang baik. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat harus segera membuat secara gotong royong, baik dana maupun tenaga untuk membuat sistem drainase.
2. Pepohonan rindang di setiap rumah, Manfaat pohon sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan lingkungan pemukiman, selain dapat menyerap racun karbondioksida yang berbahaya bagi kesehatan, pohon pun bisa menambah suasana asri.
3. Sanitasi dan sumur resapan, sistem sanitasi yang baik adalah syarat terpenting dari sebuah kesehatan lingkungan pemukiman yang layak huni. Dengan sistem sanitasi yang bersih, masyarakat akan lebih tenang dan nyaman dalam melakukan aktivitasnya. Sumur resapan memiliki fungsi unutk menjaga kualitas air tanah dan mencegah terjadinya banjir, dan untuk mengalirkan air hujan agar tidak menjadi genangan.
4. Tempat pembuangan sampah, semakin padatnya penduduk, semakin banyaknya sampah yang bertumpuk. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran dari masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Setiap rumah diwajibkan mempunyai dua macam tong sampah, satu unutk sampah organik dan satu untuk sampah nonorganik.
5. Bangunan rumah dengan ventilasi yang baik, ciri rumah sehat adalah rumah yang memiliki ventilasi yang baik sehingga pertukaran udara berjalan dengan lancar. Jendela rumah minimal harus dibuka sehari sekali agar udara lembap dirumah dapat diputar dengan udara diluar rumah. Inilah yang turut memengaruhi kesehatan lingkungan pemukiman.


Referensi:
http://bplhd.jakarta.go.id/slhd2012/Docs/Lap_SLHD/Lap_3B.htm


Sabtu, 29 Maret 2014

Lingkungan Hidup(Banjir dan Pembakaran Hutan)

Lingkungan Hidup(Banjir dan Pembakaran Hutan)

          Lingkungan hidup, sering disebut sebagai lingkungan, adalah istilah yang dapat mencakup segala makhluk hidup dan tak hidup di alam yang ada di Bumi atau bagian dari Bumi, yang berfungsi secara alami tanpa campur tangan manusia yang berlebihan. Lawan dari lingkungan hidup adalah lingkungan buatan, yang mencakup wilayah dan komponen-komponennya yang banyak dipengaruhi oleh manusia (Wikipedia).
Menurut Undang Undang No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Sedangkan ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berwawasan Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya. Dalam lingkungan hidup terdapat ekosistem, yaitu tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup. Merujuk pada definisi di atas, maka lingkungan hidup Indonesia tidak lain merupakan Wawasan Nusantara, yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alamiah dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bernegara dalam segala aspeknya. Seperti salah satu contoh kecil yang kita ketahui yang sering terjadi dinegri kita yang tercinta ini adalah persoalan banjir yang selalu terjadi di musim penghujan, dan baru saja terjadi pembakaran hutan, dan lain sebagainya.
Pada umumnya manusia juga harus merawat keseimbangan lingkungan hidup sekitar, karena tanpa kita sadari jika ekosistem tidak seimbang akan sangat berdampak buruk kehidupan manusia itu sendiri. Contoh seperti membuang sampah sembarangan, mungkin kita tidak merasa dampaknya secara langsung tetapi sampah yang kita buang sembarangan bisa membuat suatu tempat tersebut akan menjadi tidak enak untuk dilihat dan bisa menghambat saluran pembuangan sehingga bisa banjir.
Itulah sesuatu yang selalu dianggap mudah namun berdampak besar dikemudian hari, saya sebagai mahasiswa jujur sangat terganggu dengan aktifitas orang yang tidak peduli dengan kebersihan lingkungan tersebut, tapi saya memulai dengan hal kecil untuk membiasakan diri untuk peduli lingkungan. Seperti membersihkan atau membuang sampah pada tempatnya.
Salah satu penyebab rusaknya lingkungan pada saat ini adalah  suatu kebiasaan yang kecil tapi berdampak besar bagi suatu lingkungan adalah suatu budaya membuang sampah.sampah yang tidak bisa diolah yaitu sampah plastik. Karena dalam hal ini sampah plastic tidak bisa diuraikan oleh organisme dan melekat pada tanah. Dalam hal ini plastik mengandung banyak kandungan bahan kimia,banyak darinya yang tidak berwarna, berasa dan berbau, namun potensial menimbulkan bahaya kesehatan. Sebagian besar dampak yang diakibatkannya memang berdampak jangka panjang, seperti kanker, kerusakan saraf, gangguan reproduksi dan lain-lain. Sifat racun sintetis yang tidak berbau dan berwarna, dan dampak kesehatannya yang berjangka panjang, membuatnya lepas dari perhatian kita. Kita lebih risau dengan gangguan yang langsung bisa dirasakan oleh panca indera kita. Hal ini terlebih dalam kasus sampah, di mana gangguan bau yang menusuk dan pemandangan (keindahan/kebersihan) sangat menarik perhatian panca indera kita. Begitu dominannya gangguan bau dan pemandangan dari sampah inilah yang telah mengalihkan kita dari bahaya racun dari sampah, yang lebih mengancam kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita.
Kebakaran hutan merupakan salah satu penyebab kerusakan hutan yang paling besar dan bersifat dan bersifat sangat merugikan. Perbaikan kerusakan hutan akibat kebakaran memerlukan waktu yang lama, terlebih lagi untuk mengembalikannya menjadi hutan kembali. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan beberapa hal yang dapat menyebabkan kebakaran hutan seperti berikut ini.
1.                  Memperhatikan wilayah hutan dengan titik api (hot spot) cukup tinggi terutama lahan gambut di musim panas dan kemarau yang berkepanjangan.
2.                  Dilarang membuka ladang atau lahan pertanian dengan cara membakar hutan.
3.                  Dilarang meninggalkan bekas api unggun yang membara di hutan.
4.                  Tidak membuat arang di hutan.
5.                  Tidak membuang puntung rokok sembarangan di dalam hutan.
Hutan merupakan sumberdaya alam yang tidak ternilai karena didalamnya terkandung keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah, sumber hasil hutan kayu dan non-kayu, pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta kesuburan tanah, perlindungan alam hayati untuk kepentingan ilmu pengetahuan, kebudayaan, rekreasi, pariwisata dan sebagainya. Karena itu pemanfaatan hutan dan perlindungannya telah diatur dalam UUD 45.  Kebakaran hutan merupakan salah satu bentuk gangguan yang makin sering terjadi. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan cukup besar mencakup kerusakan ekologis, menurunnya keanekaragaman hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah, perubahan iklim mikro maupun global, dan asapnya mengganggu kesehatan masyarakat serta mengganggu transportasi baik darat, sungai, danau, laut dan udara. Gangguan asap karena kebakaran hutan Indonesia akhir-akhir ini telah melintasi batas negara.




Sabtu, 11 Januari 2014

proposal

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Masa persaingan bebas diera globalisasi ini perusahaan manufaktur bersaing dengan ketat dalam memproduksi barang. Konsumen menjadi sangat menyadari pentingnya kualitas produk PT. FLX yang akan dibelinya. Suatu produk pipa gas dikatakan berkualitas apabila produk tersebut mampu memenuhi harapan konsumen, hanya dengan memenuhi kepuasan konsumen inilah barang yang mereka produksi akan dibeli konsumen. Berbagai usaha ditempuh perusahaan untuk menghasilkan produk yang berkualitas, antara lain dengan menerapkan teknik pengendalian kualitas statistik dengan menggunakan alat pengendalian kualitas (seven old tools). Alat pengendalian kualitas meliputi flowchart, lembar periksa, diagram pareto, diagram sebab akibat, diagram pencar, histogram, dan peta kontrol.
Diagram pareto digunakan untuk menemukan masalah utama kecacatan dan penyebab utama kecacatan. Penerapannya digunakan untuk melakukan pengamatan dari produk dengan mengetahui penyebab cacat paling banyak dan paling sedikit.



1.2    Perumusan Masalah
Permasalahan yang terdapat dalam laporan akhir ini ditemukan permasalahan yang akan dirumuskan. Perumusan masalah dibuat agar tidak menyimpang dari masalah yang di buat. Berikut ini perumusan masalah pada setiap modul:
1.  Jenis kecacatan apa saja yang terdapat pada produk pipa gas yang dihasilkan oleh PT. FLX.
2.  Jenis kecacatan apa yang harus diprioritaskan pada produk pipa gas yang dihasilkan oleh PT. FLX.

1.3    Pembatasan Masalah
Penyusunan laporan akhir ini memiliki batasan-batasan masalah. Pembatasan masalah dilakukan agar pokok permasalahan yang dibahas menjadi lebih jelas. Berikut ini adalah pembatasan masalah yang untuk masing-masing modul.
1.  Perusahaan yang diamati hanya PT. FLX.
2.  Produk yang diamati hanya produk pipa gas.
3.  Kecacatan pada lembar periksa sebanyak 7 jenis beserta kecacatan lainnya.
4.  Metode yang digunakan dalam pengolahan data yaitu lembar periksa (check sheet), diagram pareto, diagram sebab akibat, diagram pencar, histogram, dan peta kontrol.
5.  Pengambilan data yang dilakukan untuk mengetahui hubungan penyebab kecacatan dan sebaran data dari jumlah kecacatan hanya 30 data.
6.  Software yang digunakan yaitu minitab 16.

1.4    Tujuan Penulisan
Tujuan merupakan sasaran yang ingin dicapai. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam laporan akhir ini adalah sebagai berikut:
1.  Mengetahui jenis cacat yang harus segera diselesaikan pada produk pipa gas yang dihasilkan oleh PT. FLX dengan menggunakan diagram pareto.

1.5  Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan digunakan untuk menjelaskan secara umum tentang bab-bab yang telah dikerjakan secara umum dan sistematik. Mulai dari pendahuluan, landasan teori, metodologi penulisan, pembahasan dan analisis, serta penutup.
BAB I     PENDAHULUAN
Bab I berisi tentang latar belakang, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II    LANDASAN TEORI
Bab II menjelaskan mengenai teori tentang statistical process control beserta alat pengendalian kualitas (seven old tools). Bab ini merupakan dasar teori yang dapat digunakan sebagai panduan dalam menganalisa.
BAB III   METODOLOGI PENULISAN
Bab III terdiri dari flowchart penulisan dan gambaran umum perusahaan. Flowchart digunakan untuk menggambarkan secara umum dan terperinci mengenai langkah-langkah penulisan Laporan Akhir Praktikum Pengendalian dan Penjaminan Mutu dalam bentuk flowchart agar dapat dengan mudah dipahami oleh pembaca. Flowchart tersebut terdiri atas landasaan teoritis, identifikasi masalah, pembatasan masalah, tujuan penulisan, pengumpulan data, studi kasus, pemeriksaan antara data dan kasus, pengolahan data manual dan software, analisis, kesimpulan dan saran. Gambaran perusahaan berisi profil perusahaan dan deskripsi produk perusahaan.
BAB IV    PEMBAHASAN DAN ANALISIS
Bab IV berisikan tentang pembahasan dan analisis data yang telah diolah. Pada perhitungan software digunakan aplikasi Minitab 16.


 BAB II
LANDASAN TEORI


2.1.  Statistical Process Control (SPC)
      Teori statistical process control (SPC) terdiri dari beberapa sub bab yaitu sejarah SPC, pengertian SPC, tujuan SPC, manfaat pengendalian proses secara statistik, variasi, definisi tentang data dalam konteks SPC, dan tujuh alat ukur statistical process control (SPC). Penjelasan mengenai sub-sub bab tersebut adalah sebagai berikut.

2.1.1 Sejarah Statistical Process Control (SPC)       
SPC dicetuskan pertama kali oleh Walter Andrew Shewhart ketika bekerja di Bell Telephone Laboratories, Inc. (divisi R&D untuk perusahaan AT&T dan  Western Electric) pada tahun 1920-an, pada dokumen sejarah Western Electric diceritakan pada tahun 1918, tahun di mana Shewhart bergabung di Departemen  Inspection Engineering, Western Electric di Hawthorne,  manajamen kualitas industri masih terbatas pada kegiatan inspeksi produk jadi dan memperbaiki atau membuang barang-barang cacat. Ditahun yang sama, Shewhart menciptakan peta kendali statistik pertama untuk proses manufaktur melalui prosedur-prosedur sampling statistik. Shewhart mempublikasikan penemuannya dalam buku Economic Control of Quality of Manufactured Product pada tahun 1931. (Gasperz, 1990)
Selama tahun 1920-an, Dr. Walter A. Shewhart, dari Bell Telephone Laboratories, mengembangkan konsep-konsep pengendalian mutu secara statistik (statistical quality control), ia memperkenalkan konsep pengendalian mutu dari sebuah produk yang sedang diproduksi, berbeda dengan pemeriksaan mutu produk setelah produk tersebut diproduksi. Untuk mencapai tujuan dari pengendalian mutu, Shewhart mengembangkan teknik pembuatan diagram untuk mengendalikan pelaksanaan proses produksi perusahaan. Memperkenalkan konsep dari inspeksi sampel statistik untuk mengukur kualitas produk yang sedang diproduksi. Konsep ini menggantikan metode lama dari pemeriksaan setiap bagian produksi setelah produk diselesaikan di dalam pelaksanaan produksi (Heizer, 2005).

2.1.2 Pengertian Statistikal Process Control (SPC)
      Pengendalian kualitas statistik adalah alat yang sangat berguna dalam membuat produk sesuai dengan spesifikasi sejak dari awal proses hingga akhir proses. Semakin banyak proses produksi, akan selalu ada gangguan yang dapat timbul secara tidak terduga. Gangguan tidak terduga dari proses ini relatif kecil biasanya dipandang sebagai gangguan yang masih dapat diterima atau masih dalam batas toleransi, gangguan proses ini relatif besar atau secara kumulatif cukup besar dikatakan tingkat gangguan yang tidak dapat diterima (Heizer, 2005).
      Pengendalian proses secara statistik atau yang sering disebut dengan statistical process control (SPC) merupakan suatu teknik statistik yang secara luas digunakan untuk memastikan bahwa proses yang sedang berjalan telah memenuhi standar. Pengendalian kualitas statistik adalah alat yang sangat berguna dalam membuat produk sesuai dengan spesifikasi sejak dari awal proses hingga akhir proses. Semakin banyak proses produksi, akan selalu ada gangguan yang dapat timbul secara tidak terduga. Gangguan tidak terduga dari proses ini relatif kecil biasanya dipandang sebagai gangguan yang masih dapat diterima atau masih dalam batas toleransi, gangguan proses ini relatif besar atau secara kumulatif cukup besar dikatakan tingkat gangguan yang tidak dapat diterima (Heizer, 2005).
Statistical process control (SPC) adalah metode yang efektif dalam mengendalikan aktivitas proses. Kemampuan dari SPC bergantung dari kemampuan mengendalikan, dengan mengumpulkan data dari sample yang bermacam-macam langkah dan variasi dari proses itu sendiri mempengaruhi kualitas dari hasil akhir produk atau jasa yang diberikan dapat dideteksi dan dibenarkan dengan mengurangi yang tidak perlu. Metode ini maka permasalahan yang timbul segera diketahui untuk secepatnya diambil tindakan pencegahannya. SPC mempunyai banyak kelebihan dari metode pengecekan kualitas, seperti inspeksi, deteksi dan perbaikan masalah diakhir produk atau jasa (Montgomery, 2010)
Pengendalian proses statistik merupakan metode pengendalian proses berdasarkan parameter yang diukur, kemudian dinalisa sehingga dapat menjelasakab tentang proses dalam suatu sistem industri untuk mengendalikan serta meningkatkan kualitas dari produk yang dihasilkan. Statistical process control adalah suatu metodologi pengumpulan dan analisis data kualitas, serta penentuan dan interpretasi pengukuran-pengukuran yang menjelaskan tentang proses dalam suatu sistem industri untuk meningkatkan kualitas dari output guna memenuhi kebutuhan ekspektasi pelanggan. Statistical process control merupakan pengendalian mutu produk selama masih dalam proses produksi dan pengendalian produk jadi, untuk pengendalian mutu proses dapat digunakan alat pengendali yag disebut dengan bagan kendali proses (Montgomery, 2010).
Statistical process control juga diartikan sebagai teknik penyelesaian masalah yang digunakan sebagai pemonitor, pengendali, penganalisis, pengelola, dan memperbaiki proses menggunakan metode-metode statistik. Filosofi pada statistical process control (SPC) atau pengendalian proses statistic adalah output pada proses atau pelayanan dapat dikemukakan ke dalam pengendalian statistik melalui alat-alat manajemen dan tindakan perancangan. statistical process control merupakan penerapan metode-metode statistik untuk pengukuran dan analisis variasi proses (Montgomery, 2010).

2.1.3  Tujuan Statistikal Process Control (SPC)
Pengendalian kualitas secara statistika merupakan penggunaan metode atau alat statistika untuk mengumpulkan dan menganalisis data dalam menentukan dan mengawasi mutu hasil produksi, selain untuk tujuan  tersebut, ilmu statistika untuk mengumpulkan dan menganalisis data dalam menentukan dan mengawasi mutu hasil produksi, selain untuk tujuan tersebut, ilmu statistika juga dapat dipakai dalam pengambilan keputusan tentang suatu proses atau populasi berdasarkan pada analisis informasi yang terkandung di dalam suatu sampel populasi itu (Nasrullah, 1996).
 Pemakaian statistika dalam pengawasan proses, pengendalian mutu produksi dan sistem manajemen mutu memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan teknik manajemen yang hanya mengandalkan pemikiran tim manajerial perusahaan. Beberapa kelebihan dari pemakaian statistika pengendalian mutu, antara lain (Nasrullah, 1996):
1.  Alat yang telah terbukti untuk dapat meningkatkan produktivitas, akan  mengurangi buangan dan pembuatan ulang yang merupakan pembunuh utama dalam setiap operasi.
2.  Alat efektif untuk mencegah cacat.
3.  Mencegah penyesuaian proses yang tidak perlu.
4.  Memberikan informasi bagi operator untuk membuat suatu perubahan pada proses yang dapat meningkatkan produktivitas.

2.1.4 Manfaat Pengendalian Proses Statistik
Pengendalian proses statistik dikatkan dalam batas pengendalian apabila hanya terdapat kesalahan yang disebabkan oleh sebab umum. Dapat memberikan manfaat penting, yaitu (Heizer, 2005):
1.  Proses memiliki stabilitas yang akan memungkinkan organisasi dapat memprediksikan perilaku paling tidak untuk jangka pendek.
2.  Proses memiliki identitas dalam menyusun seperangkat kondisi yang penting untuk membuat prediksi masa mendatang.
3.  Proses yang berada dalam kondisi berada dalam batas pengendalian statistik beroperasi dengan variabilitas yang lebih kecil dari pada proses yang memiliki penyebab khusus. Variabilitas yang rendah penting untuk memenangkan persaingan.
4.  Proses yang mempunyai penyebab khusus merupakan proses yang tidak stabil dan memiliki kesalahan yang berlebihan yang harus ditutup dengan mengadakan perubahan untuk mencapai perbaikan.
5.  Mengetahui bahwa proses berada dalam batas pengendali statistik akan membantu karyawan dalam menjalankan proses tersebut atau dapat dikatakan, apabila data berada dalam batas pengendali, maka tidak perlu lagi dibuat penyesuaian atau perubahan. Penyesuaian atau perubahan kembali yang tidak diperlukan justru akan menambah kesalahan, bukan mengurangi.
6.  Mengetahui bahwa proses berada dalam batas pengendali statistik, akan memberikan petunjuk untuk mengadakan pengurangan variabilitas proses jangka panjang. Mengurangi variabilitas proses tersebut, sistem pemrosesan harus dianalisis dan diubah oleh manajer sehingga karyawan dapat menjalankan proses.
7.  Analisis untuk pengendalian statistik mencakup penggambaran data produksi akan memudahkan dalam mengidentifikasi kecendrungan yang terjadi dari waktu ke waktu.
8.  Proses yang stabil atau yang berada dalam batas pengendali statistik juga dapat memenuhi spesifikasi produk, sehingga dapat dikatakan proses dalam kondisi terawat dengan baik dan dapat menghasilkan produk yang baik. Kondisi ini dibutuhkan sebelum proses diubah dari tahap perencanaan ke tahap produksi secara penuh.

2.1.5 Pengertian Variasi dalam SPC
Penyebab utama munculnya masalah kualitas adalah karena adanya variasi. Variasi terjadi di dalam proses, baik proses manufaktur maupun non manufaktur. Variasi-variasi ini dapat terjadi dikarenakan adanya variasi dalam elemen-elemen proses, yaitu manusia, mesin, metode, material dan lingkungan. Kondisi ini menunjukan variasi yang minimum, ada beberapa keuntungan apabila pengurangan proses tersebut dapat dilakukan, yaitu (Heizer, 2005):
1. Variabilitas menjadi lebih kecil yang dihasilkan dari adanya perbaikan kinerja yang dapat dilihat oleh pelanggan.
2. Mengurangi variabilitas pada karakteristik komponen yang merupakan cara mengimbangi variabilitas yang tinggi pada komponen lain untuk memenuhi persyaratan kinerja pada sistem atau perakitan.
3. Beberapa karakteristik seperti berat, pengurangan variabilitas juga akan memberikan manfaat pada perubahan rata-rata proses yang dapat menyebabkan pengurangan biaya.
4. Berkurangnya variabilitas akan mengurangi banyaknya inspeksi dan besarnya biaya inspeksi.
5. Berkurangnya variabilitas merupakan faktor yang penting dalam meningkatkan kemampuan bersaing suatu produk dan memperbesar pangsa pasar.
Variasi dikelompokan menjadi 2 jenis. Berikut ini adalah kedua jenis dari variasi (Heizer, 2005):
1. Variasi yang tidak bisa dihindari, contoh kelembaban udara, suhu ruangan yang berubah-ubah, getaran mesin penggilingan padi, perubahan voltage PLN.
2. Variasi yang bisa dihindari, contoh kurang homogennya bahan baku, kurang cermatnya operator.

2.1.6 Definisi Data dalam SPC
Data adalah catatan tentang sesuatu, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif yang dipergunakan sebagai petunjuk untuk bertindak. Berdasarkan data dipelajari fakta-fakta yang ada dan kemudian mengambil tindakan yang tepat berdasarkan pada fakta itu, dalam konteks pengendalian proses statistikal dua jenis data tersebut yaitu (Montgomery, 2010):
1.  Data atribut merupakan data kualitatif yang dihitung menggunakan daftar pencatatan atau tally untuk keperluan pencatatan dan analisis. Data atribut bersifat diskrit. Suatu catatan hanya merupakan suatu ringkasan atau klasifikasi yang berkaitan dengan sekumpulan persyaratan yang telah ditetapkan, maka catatan itu dianggap sebagai atribut. Contoh data atribut adalah ketiadaan label pada kemasan produk, kesalahan proses administrasi buku tabungan nasabah, banyaknya jenis cacat pada produk, dan lain-lain.
2.  Data variable merupakan data kuantitatif yang diukur menggunakan alat pengukuran tertentu untuk keperluan pencatatan dan analisis. Data variabel bersifat kontinyu. Suatu catatan dibuat berdasarkan keadaan aktual, diukur secara langsung, maka karakteristik kualitas yang diukur itu disebut sebagai variabel. Contoh data variabel adalah diameter pipa, ketebalan suatu produk, berat suatu produk, dan lain-lain.

2.1.7 Tujuh Alat Ukur Statistical Process Control (SPC)
Menurut W. Edwards Deming, dalam pemecahan masalah melalui statistical process control (SPC) terdapat tujuh alat statistik utama (seven tools) untuk perbaikan kualitas. Ketujuh alat tersebut yaitu (Montgomery, 2010):
1.Diagram alir (flow chart).
2.  Lembar periksa (check sheet).
3.  Diagram pareto (pareto chart).
4.  Diagram batang (histogram).
5.  Peta control atau bagan kendali (control chart).
6.  Diagram tebar (scatter diagram).
7.  Diagram sebab-akibat (cause and effect diagram).

2.2.  Diagram Pareto
Diagram Pareto pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli yaitu Alfredo Pareto pada tahun 1848-1932. Diagram Pareto ini merupakan suatu gambar yang mengurutkan klasifikasi data dari kiri ke kanan menurut urutan rangking tertinggi hingga terendah hal ini dapat membantu menemukan permasalahan yang paling penting untuk segera diselesaikan (rangking tertinggi) sampai dengan masalah yang tidak harus segera diselesaikan (rangking rendah). Diagram Pareto juga dapat mengindetifikasi masalah yang paling penting yang mempengaruhi usaha perbaikan kualitas dan memberikan petunjuk dalam mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk menyelesaikan masalah (Montgomery, 2010).
      Diagram Pareto dibuat berdasarkan data statistik dan prinsip bahwa 20% penyebab bertanggungjawab terhadap 80% masalah yang muncul atau sebaliknya. Kedua aksioma tersebut menegaskan bahwa lebih mudah mengurangi bagian lajur yang terletak di bagian kiri diagram Pareto daripada mencoba untuk menghilangkan secara sistematik lajur yang terletak di sebelah kanan diagram hal ini dapat diartikan bahwa diagram Pareto dapat menghasilkan sedikit sebab penting untuk meningkatkan mutu produk atau jasa. Keberhasilan penggunaan diagram Pareto sangat ditentukan oleh partisipasi personel terhadap situasi yang diamati, dampak keuangan yang terlihat pada proses perbaikan situasi dan penetapan tujuan secara tepat. Faktor lain yang perlu dihindari adalah jangan membuat persoalan terlalu kompleks dan juga jangan terlalu mencari penyederhanaan pemecahan (Nasrullah, 1996).
Tahapan penggunaan dari Diagram Pareto adalah mencari fakta dari data ciri gugus kendali mutu yang diukur, menentukan penyebab masalah dari tahapan sebelumnya dan mengelompokkan sesuai dengan periodenya, membentuk histogram evaluasi dari kondisi awal permasalahan yang ditemui, melakukan rencana dan pelaksanaan perbaikan dari evaluasi awal permasalahan yang ditemui, melakukan standarisasi dari hasil perbaikan yang telah ditetapkan dan menentukan tema selanjutnya. Prinsip Pareto juga dikenal sebagai aturan 80/20 dengan melakukan 20% dari pekerjaan bisa menghasilkan 80% manfaat dari pekerjaan itu. Aturan 80/20 dapat diterapkan pada hampir semua hal, seperti (Nasrullah, 1996):
1. 80% dari keluhan pelanggan timbul 20% dari produk atau jasa.
2. 80% dari keterlambatan jadwal timbul 20% dari kemungkinan penyebab penundaan.
3. 20% dari produk atau account untuk layanan, 80% dari keuntungan Anda.
4. 20% dari tenaga penjualan menghasilkan 80% dari pendapatan perusahaan Anda.
5. 20% dari cacat sistem penyebab 80% masalahnya. Prinsip Pareto untuk seorang manajer proyek adalah mengingatkan untuk fokus pada 20% hal-hal yang materi, tetapi tidak mengabaikan 80% masalah.

2.2.1 Pengertian Diagram Pareto
      Diagram pareto adalah grafik batang yang menunjukkan masalah berdasarkan urutan banyaknya kejadian. Masalah yang paling banyak ditunjukkan oleh grafik batang pertama yang tertinggi serta ditempatkan pada sisi paling kiri dan seterusnya sampai pada masalah yang paling sedikit terjadi ditunjukkan oleh grafik batang terakhir yang terendah serta ditempatkan di sisi paling kanan. Dasar diagram pareto dapat digunakan sebagai alat interpretasi untuk (Heizer, 2005):
1. Menentukan frekuensi relatif dan urutan pentingnya suatu masalah-masalah atau penyebab-penyebab dari masalah yang ada.
2. Memfokuskan perhatian pada isu-isu kritis dan penting melalui pembuatan ranking terhadap masalah-masalah atau penyebab-penyebab dari masalah itu dalam bentuk yang signifikan.
Suatu diagram pareto akan dapat diketahui, suatu faktor merupakan faktor yang paling prioritas dibandingkan faktor-faktor lainnya, karena faktor tersebut berada pada urutan terdepan, terbanyak atau pun tertinggi pada deretan sejumlah faktor yang dianalisa. Melalui diagram pareto yang diperbandingkan, akan dapat dilihat perubahan seluruh atau sebagian faktor-faktor yang sedang diteliti pada kondisi yang berbeda. Diagram pareto juga biasa digunakan untuk dapat menentukan pangkal persoalan, berdasarkan analisa dengan mempertimbangkan beberapa sudut pandang. (Gasperz, 1990)

2.2.2 Fungsi Diagram Pareto
Diagram pareto memiliki bebrapa fungsi dalam pengendalian kualitas. Fungsi atau kegunaan dari diagram pareto adalah sebagai berikut (Gasperz, 1990):
1. Menunjukan persoalan utama yang dominan dan perlu segera diatasi.
2. Menyatakan perbandingan masing-masing persoalan yang ada dan kumulatif secara keseluruhan.
3. Menunjukan tingkat perbaikan setelah tindakan koreksi dilakukan pada daerah yang terbatas.
4. Menunjukkan perbandingan masing-masing persoalan sebelum dan sesudah perbaikan.
Menggunakan diagram pareto memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan yang didapatkan dalam penggunaan diagram pareto dapat dijelaskan sebagai berikut (Gasperz, 1990):
1.  Diagram pareto kita mampu mengetahui urutan prioritas.
2. Diagram pareto kita bisa membandingkan nilai masing-masing terhadap keseluruhan.
3. Diagram pareto menunjukkan tingkat perbaikan setelah ada perbaikan atau tindakan.
4. Diagram pareto kita dapat menunjukkan berpandingan masing-masing sebelum dan sesudah perbaikan.

2.2.3 Langkah-Langkah Pembuatan Diagram Pareto
Diagram pareto memiliki beberapa langkah dalam pembuatannya. Berikut merupakan langkah-langkah tersebut (Gasperz, 1990):
1.  Tentukan metoda dan waktu pengambilan data.  
2.  Buatlah stratifikasi data berdasarkan satuan atau waktu yang terpakai, frekuensi kejadian atau bahkan berdasarkan nilai ekonomisnya (financial).
3.  Susunlah data dalam lembar data untuk diagram pareto yang memuat semua faktor, jumlah data masing-masing faktor, persentase masing-masing faktor, jumlah kumulatif dan persentase kumulatif.
4.  Gambarkan pareto diagram dengan urutan:
a. Buatlah garis vertikal (sumbu Y) yang dihubungkan dengan sudut kiri garis horizontal (sumbu X) dan tentukan skala pada garis vertikal.
b. Lembar data yang tersedia, gambarlah balok masing-masing faktor dengan ukuran lebar yang sama, sesuai dengan jumlah data dan mengacu pada garis vertikal.
c. Menggunakan jumlah kumulatif, tentukan titik kumulatif masing-masing faktor, lanjutkan dengan menarik garis kumulatif, dimulai dari titik 0 (perpotongan sumbu X dan Y).
d. Tuliskan masing-masing tabel faktor di bawah garis horizontal.
e. Tuliskan jumlah masing-masing faktor diatas balok.
f. Tulislah persentase kumulatif pada bagian sebelah kanan diagram.
g. Tulislah ukuran yang dipakai (satuan, frekuensi, dan lain-lain) pada garis vertikal (sumbu Y).
h. Cantumkan juga di ujung kiri atas diagram total data dan periode pengambilan data.
i. Jangan lupa untuk mencantumkan judul diagram pareto tersebut.



 BAB IV
PEMBAHASAN DAN ANALISIS


4.1. Diagram Pareto
Diagram pareto digunakan untuk menemukan masalah utama kecacatan dan penyebab utama kecacatan dengan cara mengklasifikasikan masalah mutu ke dalam sebab penting yang sedikit dan sebab tidak penting yang banyak. Diagram pareto dalam banyak hal, kebanyakan rusak dan biaya yang timbul didapat dari sejumlah kecil dari sebab.

4.1.1  Studi Kasus
       PT. FLX memproduksi Pipa Gas secara terus menerus,perusahaan tersebut melakukan pengamatan terhadap produk cacat, setelah dilakukan pengamatan diketahui jenis cacat pada produk tersebut sebanyak 7 jenis. Berikut ini adalah hasil pengamatan yang dilakukan :
Tabel 4.1 Cacat Produksi PT FLX
Jenis Kecacatan
Jumlah
Diameter Pipa
30
Sambungan Las Dalam
27
Bengkok Body
8
Bekas Las Diatas
10
Cacat Body
4
Bekas Las Dibawah
12
Kerusakan Lainnya
15
Total
106
4.1.2 Perhitungan Manual
Perhitungan manual merupakan perhitungan sederhana dengan menggunakan rumus yang telah ditentukan. Perhitungan manual yaitu menghitung persentase kecacatan pada tiap jenis kecacatan. Berikut ini adalah perhitungan manual persentase kecacatan produk sebagai berikut:

Text Box: Persentase jenis kecacatan = "Jumlah cacat" /"Total cacat"  x 100 
..(4.2.1)

Diameter Pipa 
 x 100 = 28,30%
1.  Persentase kecacatan : sambungan las dalam               =  x 100 = 25,47%
2.  Persentase kecacatan : kerusakan lainnya  =  x 100 = 14,15%
3.  Persentase kecacatan : bekas las dibawah                     =  x 100 = 11,32%
4.  Persentase kecacatan : bekas las diatas                 =  x 100 = 9,43%
5.  Persentase kecacatan : bengkok body                      =  x 100 = 7,55%
6.  Perentase kecacatan : cacat body
=  x 100 = 3,78%
Text Box: Persentase kumulatif = fki = f1 + f2 + … + fi
                fki = fki-1 + fi

 

(4.2.2)

Keterangan :
fki = frekuensi kumulatif kelas ke-i
fi  = frekuensi kelas ke-i
1. Diameter Pipa         = 28,30%
2. Sambungan Las Dalam   = 28,30 + 25,47 = 53,77%
3. Kerusakan Lainnya     = 53,77 + 14,15 = 67,92%
4. Bekas Las Dibawah     = 67,92 + 11,32 = 79,24%
5. Bekas Las Diatas      = 79,24 + 9,43  = 88,67%
6. Bengkok Body          = 88,67 + 7,55  = 96,22%
7. Cacat Body            = 96,22 + 3,78  = 100

Tabel 4.2 Persentase cacat dan Persentase kumulatif Cacat produk
Jenis
Kecacatan
Jumlah
Total Kumulatif
Persentase
Cacat Produksi
Persentase
Kumulatif
Diameter pipa
30
30
28,30
28,30
Sambungan las dalam
27
57
25,47
53,77
Kerusakan lain
15
72
14,15
67,92
Bekas las dibawah
12
84
11,32
79,24
Bekas las diatas
10
94
9,43
88,67
Bengkok body
8
102
7,55
96,22
Cacat body
4
106
3,78
100
Total
106
-
100
-
                                            
4.1.4  Analisis
  Analisis berisi pembahasan mengenai perhitungan manual dan pengolahan software menghasilkan nilai persentase kecacatan yang sama. Pada perhitungan manual dan pada saat memasukkan data pada software data diurutkan dari yang terbesar sampai yang terkecil.
  Perhitungan manual untuk jenis kecacatan diameter pipa memiliki persentase kecacatan sebesar 28,30% yang didapat dengan cara membagi jumlah unit cacat (untuk 1 jenis kecacatan) dibagi total jenis kecacatan dikali 100. Pada pengolahan software nilai persentase kecacatan untuk jenis kecacatan diameter pipa sebesar 28,3%. Perhitungan manual untuk jenis kecacatan sambungan las dalam memiliki persentase kecacatan sebesar 25,47%. pengolahan software 25,5%, jenis kecacatan untuk kerusakan lainnya memiliki persentase kecacatan pada perhitungan manual sebesar 14,15%, dan pada pengolahan software persentase kecacatannya sebasar 14,2%. Berdasarkan perbandingan persentase kecacatan antara perhitungan manual dan pengolahan software memiliki nilai yang sama besar yang membedakan hanya angka dibelakang koma, pada perhitungan manual hasil persentase kecacatan tidak dibulatkan dan terdiri dua angka dibelakang koma sedangkan pada pengolahan software hasil persentase kecacatan dilakukan pembulatan dan menggunakan satu angka dibelakang koma. Persentase kumulatif perhitungan manual memiliki nilai yang sama besar dengan pengolahan software 28,30, 53,77,  67,92, 79,24, 88,67, 96,2 dan 100 sedangkan pada pengolahan software 28,3, 53,8, 67,9, 79,2, 88,7, 96,2 dan 100, hasil persentase kumulatif perhitungan software hasilnya dibulatkan.

DAFTAR PUSTAKA


Gasperz, Sebastian. 1990. Operational Industrial Engineering Riset. Jakarta: Gramedia.
Heizer, Jay. 2005. Operation Manajement edisi ketujuh. Jakarta: Salemba Empat.
Montgomery, Rey. 2010. Pengantar Quality Control. Jakarta: Gramedia.
Nasrullah, Reza. 1996. Pengantar Teknik Industri. Jakarta: Universitas Gunadarma.